Empat Tahun Setelah Resign Dan Berhenti Bekerja Dari Mas-Mas Kantoran!

By | September 11, 2019

Ketika menulis ini, tak terasa kalau sudah sekitar 4 tahun lebih sedikit saya menyandang titel pekerjaan yang membingungkan. Saya bilang bingung karena tiap kali ada yang nanya saya suka ganti-ganti jawabnya. Bahkan emak saya juga suka bingung jelasin apa sebenarnya pekerjaan saya kalau lagi ada yang nanya. Doi kadang jawab “Nggak tau kerjanya apa, kalau lagi dirumah di depan laptop aja. Tapi kadang tiba-tiba pergi ke luar negeri”.

Kadang saya menjelaskan kalau saya adalah seorang pekerja lepas, pekerja serabutan atau biar lebih keren dikit freelancer. Kadang juga menjelaskan kalau saya adalah full time travel blogger di catperku.com. Tidak jarang juga saya memperkenalkan diri sebagai konten kreator pada klien yang sedang menawarkan kerjasama project video.

Tapi, rasanya saya lebih cocok disebut sebagai pekerja “palugada”, apa lu mau, gua ada. Selain kadang saya menerima pekerjaan cuma dengan modal nekat, juga karena saking banyaknya yang saya kerjakan. Tapi yang jelas, pekerjaan apapun bisa dikerjakan asal halal. Iya nggak sih?

Namun, saya bilang begitu bukan ngasal, karena saya udah pernah bekerja mulai dari jadi Software Engineer, SEO Specialist, Digital Marketer, Penulis, Blogger, Video Editor, Pembicara, Trainer, hingga tukang cuci mobil dan pembuat kue (Baker) waktu saya di Australia. Kalau lihat portofolio saya disini, jadi malah bingung sih sebenarnya, saya itu multitalenta atau malah seorang Master Of None ya?

Pengalaman Waktu Masih Bekerja Kantoran

 

 

Ps: video diatas hanya ilustrasi, karena saya belom pernah bekerja di Pertamina. Itu waktu saya diundang buat site visit ke field pertamina sebagai Blogger.

Sebagai lulusan Teknik Elektro Brawijaya yang menggemari dunia internet dan Software Engineer, saya memulai pekerjaan kantoran saya sebagai Junior Programmer yang kantornya ada di Bali. Nama kantornya adalah PT Mitrais (www.mitrais.com), dan ini adalah kantor pertama sekaligus kantor paling menyenangkan buat saya. Kenapa?

Pertama, Mitrais ini lokasinya ada di Bali, jadi selama bekerja disana, saya nggak merasa sedang bekerja. Selain selama bekerja di Mitrais ini hampir tak pernah ada lembur (2 tahun kerja di Mitrais, saya cuma kebagian lembur 2 hari di sabtu minggu yang kemudian diganti dengan cuti 2 hari, plus ketika klien mampir ke Bali saya dan teman yang lembur ditraktir makan sushi sepuasnya! Gokil gak?).

Lalu jam pulang Mitrais ini rata rata bisa teng go jam 5 sore, sepulang dari kantor saya bisa langsung ngacir ke pantai. Meski sering teng go, rasanya pekerjaan juga tetap selesai tepat waktu. Karena waktu yang dikasih untuk tiap project itu sepertinya benar-benar dipikirikan sesuai level programmernya. Paling tidak itu yang saya rasakan ketika bekerja disana dulu.

Kekurangan bekerja di Mitrais adalah gajinya waktu itu cukup standard, dan sedikit dibawah standard gaji programmer di Jakarta. Kalau sekarang, saya kurang tahu. Karena saya bekerja di Mitrais ini pada tahun 2011 awal sampai 2013 tengah. Selain itu, karena lokasinya di Bali, saya jadi suka boros dan hedon, tabungan pun jadi sering ludes tak bersisa (abis banyak buat traveling nih, sebelum bisa kerja sambil traveling seperti sekarang).

Padahal bisa dibilang meski gaji Mitrais standard, pekerjaan sampingan saya mengalir cukup kencang. Bahkan ada suatu waktu ketika penghasilan dari pekerjaan sampingan yang juga programmer itu jauh lebih besar dari gaji bulanan di mitrais. O iya, selama bekerja di Bali ini juga saya bisa menulis buku traveling tentang Bali, The Traveler Note Bali The Island Of Beauty yang mungkin sekarang tinggal versi ebook-nya. Jadi royalti buku juga masih masuk, meski sedikit.

Ilustrasi waktu ngantor di Bali, rasanya everyday is holiday!

Ilustrasi waktu ngantor di Bali, rasanya everyday is holiday!

Sebenarnya saya sangat menikmati bekerja di Mitrais Bali. Namun, sebagai anak muda yang masih haus akan pengalaman dan sedikit kenaikan gaji, saya pun memutuskan keluar karena mendapatkan tempat baru. Saya diterima di Samsung MSCI atau sekarang dikenal sebagai Samsung R&D Institute Indonesia di Jakarta. Kantornya di wisma GKBI diseberang semanggi nih. Posisi masih sama, sebagai software engineer untuk pekerjaan dengan .NET Framework.

Di Samsung ini gajinya lumayan, THR oke, bonus juga bagus. Bahkan baru masuk kurang dari 3 bulan tiba-tiba saya udah dapet transferan bonus bagi hasil karena Samsung lagi untung besar dari penjualan produknya. Tapi saya hanya bisa bertahan sekitar 1 tahun 4 bulan di Samsung. Bukan karena apa, namun ternyata saya nggak begitu suka tinggal di Jakarta. Simplenya, buat saya Jakarta adalah kota yang saya benci tapi saya tak bisa berpaling darinya sampai sekarang. Gimana lagi, sebagain besar project datangnya dari Jakarta?

Bagaimanapun juga, setelah pindah ke Jakarta, networking saya semakin luas. Dan pekerjaan yang berhubungan dengan travel blog juga dunia digital marketing juga makin banyak. Ini juga yang membuat saya kemudian berani memutuskan untuk keluar dari pekerja kantoran dan menjalani pekerjaan “serabutan” sampai sekarang ini. Skill dan portofolio itu kuncinya, dan networking adalah katalisnya.

Sebenarnya setelah resign dari samsung saya sempet bekerja dan dikontrak sebagai Travel Blogger di Perusahaan yang bernama Reservasi atau PT Reservasi Global Digital. Jobdesk saya adalah mempromosikan website reservasi yang bahkan waktu itu belum jadi. Caranya adalah dengan membuat travel blog dari nol pageviews hingga ratusan ribu pageviews per bulan. Blognya sampai sekarang masih ada kok, alamatnya blog.reservasi.com kalau mau lihat.

Namun pekerjaan di reservasi ini tak saya anggap sebagai pekerjaan kantoran. Karena meski kadang kerjanya di kantor, saya bisa bebas bekerja dari rumah. Soalnya waktu itu saya lagi sering diundang untuk famtrip sebagai travel blogger. Tiap bulan pasti ada saja 1-2 perjalanan. Dan kadang sekali jalan bisa 1-2 minggu. Saya bisa bekerja dari rumah juga karena itu deal yang saya buat ketika masuk ke Reservasi.

Saya hanya bekerja sekitar 8 bulan di reservasi, dan berhenti di bulan Desember 2015. Saya resign dari Reservasi setelah visa work and holiday Australia saya disetujui. Bagaimana lagi, visa ini cuma bisa diambil sekali seumur hidup, dan dengan visa WHV ini juga saya bisa bekerja sambil liburan di Australia.

Saya menyebutnya, sebagai gap year, sekaligus sebagai tes bertahan hidup, apakah saya bakal kuat melanjutkan pekerjaan sebagai freelancer. Ternyata, setelah pulang dari WHV di Australia sampai sekarang ini saya belum pernah lagi bekerja sebagai mas mas kantoran, dan belum ada rencana lagi buat ngantor dalam waktu dekat.

Pengalaman Menjadi Freelancer Selama 4 Tahun Lebih

Pekerjaan freelance sebenarnya sudah saya lakukan sejak semester akhir kuliah di Teknik Elektro Brawijaya di tahun 2010. Namun saya benar-benar bekerja sebagai freelancer tanpa kantor sejak keluar dari Samsung. Yang saya kerjakan waktu itu tak jauh dari seputar dunia travel blogging dan pekerjaan yang berhubungan dengan dunia perjalanan.

Berbekal travel blog catperku.com, saya bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup dan sedikit menikmatinya. Penghasilan di awal menjadi freelancer mungkin tak sebanyak ketika ngantor yang sampai dua digit. Tapi karena saya pindah dari Jakarta, pengeluaran juga turun jauh. Penghasilan yang saya dapatkan rasanya juga sebanding dengan kebebasan yang saya dapatkan sampai sekarang ini.

Iya, karena freelancer itu nggak punya bos yang harus ditakuti dan kantor, jadi saya bisa bebas mengatur kapan saya mau kerja dan liburan. Klien pun bisa agak milih, yang bayarnya lama, atau yang nawarnya keterlaluan bisa saya coret dari daftar kerjasama. Saya bisa begitu karena saya juga ada yang namanya penghasilan dari Google Adsense yang sebenarnya cukup buat hidup bulanan. Yang perlu ditakuti oleh seorang freelancer itu sebenarnya cuma rasa malas bekerja, kadang deadline dan tuhan yang maha esa. Itu saja sih, karena saya percaya, kalau rejeki sudah ada yang atur, asal kita mau bekerja keras.

Setelah sekitar 4 tahun menjalani pekerjaan seperti sekarang ini, belum ada kepikiran ingin berhenti. Maunya terus saja sampai nggak kuat bekerja lagi.

Setelah sekitar 4 tahun menjalani pekerjaan seperti sekarang ini, belum ada kepikiran ingin berhenti. Maunya terus saja sampai nggak kuat bekerja lagi.

Namun tentu saja, sebagai pekerja lepas itu gak semudah yang dibayangkan. Konsekuensi dari tidak bergaji adalah setiap hari harus berinovasi. Berinovasi disini adalah, saya harus belajar terus setiap hari. Belajar skill apapun asal membuat saya bahagia dan tentunya saya bisa mendapatkan uang dari situ.

Namun, jika dibandingkan dengan ketika masih ngantor, terus terang saya lebih menikmati kehidupan yang sekarang. Selain juga bisa tetap dapat uang, saya mempunyai kesempatan lebih banyak untuk belajar dan bertemu dengan banyak orang baru. Tentu saja itu karena saya sering bepergian sebagai travel blogger atau influencer. Disini, saya berkesempatan untuk bertemu dengan banyak orang hebat, dan sedikit mencuri ilmu untuk kemudian saya pelajari.

Menjadi pekerja serabutan juga sukses melejitkan berat badan saya. Ketika masih ngantor, paling berat badan saya nggak sampai 60 KG, rata-rata di 55-an KG lah. Tapi terakhir cek kemarin kok ya melejit sampe 70 KG. Kebanyakan sih ini sebenarnya, jangan sampai nambah lagi deh. Sepertinya saya juga harus mulai rajin olah raga seperti ketika masih tinggal di Sydney Australia di tahun 2016 yang lalu.

Sampai Kapan Mau Seperti Sekarang?

 

Saya masih menikmati kondisi seperti sekarang. Meski mungkin tidak bergaji, tapi saya belum mau berhenti.

Sampai detik ini, saya belum ada rencana buat balik ngantor lagi. Meski sebenarnya sempat kepikiran pengen coba kerja kantoran di posisisi yang berhubungan di Digital Marketing atau SEO Specialist selama beberapa tahun. Pengen belajar sama pengen nambahin portofolio di linkedin saja sih. Tapi ya, itu juga kalau gajinya jauh lebih besar dengan yang saya dapatkan sekarang.

Tapi, untuk seterusnya mungkin saya bakal lebih memilih menjalankan pekerjaan yang sekarang, sambil belajar menjadi peternak ikan di desa. Masih banyak yang ingin saya pelajari, masih banyak yang ingin saya kerjakan dengan menjadi manusia bebas. Rasanya belum siap bangun pagi, berteman dengan macet jakarta, dan pulang kerumah ketika hari sudah gelap.

Daripada begitu, saya lebih suka bekerja keras untuk diri sendiri. Omong-omong, kalau ada project yang berhubungan dengan skill saya, dan ingin mengajak kerjasama, saya bisa dihubungi di [email protected] ya! Terimakasih buat yang sudah membaca, semoga sebagian dari pengalaman hidup saya ini bisa berguna untuk para pembacanya.

11 thoughts on “Empat Tahun Setelah Resign Dan Berhenti Bekerja Dari Mas-Mas Kantoran!

  1. Kartika Sari

    Inspiratif banget nih mas. Karena aku juga sedang menjajaki dunia freelancer. Masih seputar nulis aja sih. Pengennn banget bisa segera resign dari dunia kantor 9 to 5.

    Reply
  2. Dwi Wahyudi

    Ini baru keren, melepas kerjaan yang udah didapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengisi posisi kerjaan tersebut.

    Reply
  3. Sabda Awal

    luar biasa mas, bikin saya kagum dan bikin saya terinspirasi. sebenarnya jenis pekerjaan yang saya inginkan begini, jadi travel blogger. tapi apa boleh buat, saya masih kesulitan keluar dari zona zaman. Masih nyaman duduk dikantor kerja di depan komputer, hihi…

    semoga suatu saat saya bisa menyusul jejak, saya paham kok freelancer itu ga seenak yang dibayangkan, terlebih penghasilan yang ga menentu.

    Reply
  4. Lia Lathifa

    Tulisanmu bagai oase di tengah gersang rasa malasku hehe. Inspiratif banget mas, saya juga jadi mikir jangan-jangan selama ini kerja online saya nanggung, makanya gak ada impact yg membanggakan

    Reply
  5. Rahayu Asda

    Benar sekali mas, musuh terbesar dari seorang freelancer adalah rasa malas.
    Klw mau rezeki terus mengalir mesti terus berinovasi
    Thank tulisannya 🙂

    Reply
  6. Hastira

    jadi pekerja lepas itu gak mudah, hebat , krn hrs mampu mendisplinkan diri kalau gak ,wah bisa berantakan semua

    Reply

Leave a Reply