Tak Ada Teman Abadi, Tak Ada Musuh Abadi Dalam Politik!

By | August 8, 2018

Jujur, tiap kali gue melihat ada post viral di lini masa facebook, yang pertama kali gue lihat bukan kontennya terlebih dahulu. Tapi gue biasanya baca komentarnya terlebih dahulu. Isinya sama, saling caci, perdebatan tiada henti antar kubu yang berseberangan. Dalam kepala gue selalu mikir, kok ya mau ngabisin waktu nggak guna dengan berdebat di social media.

Padahal nih ya, kalau ditelusuri lebih lanjut dan dalam, sebagian dari akun yang ikut berdebat tadi adalah akun anonim yang enggak jelas jluntrungnya. Bisa jadi itu adalah bot, atau beberapa akun yang dipegang oleh orang yang sama.

Yah, sebagai praktisi media sosial, yang sudah bermain-main dari beberapa tahun lalu, kurang lebih gue tahu bagaimana membedakan akun yang memang asli dan bukan bot.┬áMeski bakal memerlukan sedikit waktu ya… Ternak bot socmed itu gampang banget, cukup dengan sedikit belajar dan sedikit resource, mengendalikan ratusan hingga ribuan bot itu hal yang gampang.

Tak Ada Teman Abadi, Tak Ada Musuh Abadi Dalam Politik!

Tak Ada Teman Abadi, Tak Ada Musuh Abadi Dalam Politik!

Nah, sekarang kembali ke topik “Tak Ada Teman Abadi, Tak Ada Musuh Abadi Dalam Politik!” dulu deh…

Jadi, beberapa waktu lalu gue melihat sebuah post di facebook yang menarik perhatian saya seperti di bawah ini, dan gue rasa, perlu gue share juga di blog ini. Untuk sekedar mengingatkan, perdebatan di media sosial itu nggak ada gunanya. Lebih baik terus berkarya, menuliskan kata-kata di blog tercinta~

Tsaaaah~

Isi tulisannya~

GAMBAR, BERCAKAPLAH!

Biar gambar-gambar ini bercakap. Tentang masa lalu dan masa kini. Dulu kau puji, sekarang bisa kau caci.

Dapat simpati dan sanjung bukan main hebatnya karena masih dalam kelompoknya, ketika tak lagi dalam gerombolan, maka lupa segala puji yang pernah diberikan, lupa segala sanjung yang pernah ditaburkan. Jadi benci saja semua isi. Ludah tak bisa dijilat lagi. Catatanmu tak bisa dihapus, bahwa kau pernah mengaguminya.

Gambar, ceritakanlah kepada mereka tentang masa lalu itu. Agar mereka tak kemudian malu. Agar mereka kemudian mengerti, bahwa bukan seberapa hebat sanjung puji dan caci maki itu, tapi seberapa dalam mereka tahu tentang kepentingan sesaat itu.

Janganlah benci, karena kau pernah memuji. Janganlah mencaci, karena kau pernah mengagumi. Kait mengait antara satu dan lainnya di antara mereka, buat apa dipikirkan dalam-dalam. Makan minum tak enak, tidur tak nyenyak, setiap hari sejak pagi merancang hati untuk membenci. Maka sia-sialah ibadahmu dan kau menjaga hatimu.

Gambar, bercakap-cakaplah. Meski masih bisa direkayasa, gambar tak bisa berdusta jika merunut sejarahnya.

Kita sajalah yang bodohnya tak ketulungan, mau dimain-mainkan politisi dan buzzer saja. Ke sana isu di bawa, berbondong-bondong kita saling telikung di sana pula, di sini isu ditaburkan di sini juga kita beramai-ramai saling menghabisi. Si perancang hanya melihat dampak dan efeknya saja kalkulasi politik untuk mereka, bukan buat kita. Lebam bilur kita sudah berkelahi tak ada arti.

Jangan mudah diseret-seret, jika kau tahu, politik ada di belakangnya. Kita bukan kerbau yang mudah dicucuk hidungnya. Mereka bisa saling bicara keras, cenderung kasar, tapi setelah itu bersalaman dan berangkulan. Kita yang sudah tersulut, marah dan kesal tak habis-habis. Betapa dungunya kita.

Mereka bersilat lidah, main sirkus di panggung politik, setelah itu berkongsi juga di antaranya, kita keburu sebal pada lawan satunya, dongkol sedongkol-dongkolnya. Buat apa?

Mereka toh merebutkan suara kita, cari simpati segala cara. Tak mudah harusnya kita berikan, jika tahu akal-akalan mereka saja.

Lihat gambar-gambar ini. Yang kau kagumi bersebelah dengan yang kau caci. Yang kau benci bersebelah dengan yang kau puja puji.

Hanya ingin sahabat sadar. Tak guna berkelahi, sesama anak negeri. Biar politisi dan buzzer memainkan segala cara agar ada yang simpati dan bela mati-matian, karena itu pilihannya bekerja.

Kita, harusnya tertawa saja. Buat apa susah hati. Bukti cintamu pada keluargamu setiap hari menanti, yang selama ini habis waktu untukmu berpikir bagaimana memproduksi benci setiap hari.

Gambar, bercakaplah…

Tulisan ini hanya untuk mereka yang bisa membaca gambar…

#sayabelajarhidup bersama UUrsamsi HinukartopatiFOTO: Istimewa

:: hormat untuk para fotografer sepanjang masa, mencatat sejarah dari gambar yang tak dibuat-buat. Satu gambar seribu kisahnya.

Selain tulisan, terlihat foto-foto lama dari beberapa figur politisi nasional Indonesia. Bukan foto-foto indah layaknya lansekap indonesia, bukan juga foto cakep karena editan aplikasi camera 360. Hanya sebuah foto biasa, yang diabadikan pada moment tertentu. Kalau kurang jelas, fotonya sih kira-kira seperti ini:

senyum dong pak~

Mesra bgt~

Gini kan adem

Ayo maju bareng~

Tak ada lawan dan kawan abadi dalam politik

Duuh~

Baekan aja

Kalau gini kan adem ya~

Semangat!

Lagi silaturahmi ini pasti

Akrab banget ya!

Yang jelas bukan keluarga cemara

Mr President dengan pak habib?

Mr Presiden Jokowi dengan AHY

Mr Anies Baswedan dan Ahok.

Pak SBY dan Megawati dalam satu frame.

Mr Jokowi dan Anies Baswedan dalam satu frame.

Mr Jokowi dan Anies Baswedan dalam satu frame.

Dari foto dan tulisan tersebut, gue jadi makin yakin. Nggak guna berdebat kusir untuk mereka. Sesuatu yang tetap dari namanya politik sejak dulu. Sekarang lawan, mungkin nanti jadi kawan, sekarang kawan, bisa jadi besok jadi musuhhan. Berdebat untuk orang-orang seperti mereka, menghabiskan tenaga saja.

 

Leave a Reply