Indonesia Berduka 11-9-2019, RUU KPK Dan Perginya Inspirator Bangsa

By | September 12, 2019

Ada yang bikin Indonesia berduka pada tanggal 11 September 2019 ini….

Pertama perginya seorang inspirator saya dan bangsa indonesia, B. J. Habibie yang juga dikenal sebagai mr crack. Selamat jalan pak, terimakasih telah menginspirasi saya selama ini.

Tanpa inspirasi bapak, mungkin saya nggak akan pernah bermimpi untuk pergi melihat dunia luar, dan menjadi seorang engineer.

 

View this post on Instagram

 

Selamat Jalan Presiden B.J. Habibie⁣⁣ 25 Juni 1936 – 11 September 2019⁣⁣ ⁣⁣ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada 11 September 2019 pukul 18.05. The Habibie Center memohon doa segenap masyarakat Indonesia untuk mengantarkan kepergian beliau.⁣⁣ ⁣⁣ ——–⁣⁣ ⁣⁣ In Loving Memory of President B.J. Habibie⁣⁣ 25 June 1936 – 11 September 2019⁣⁣ ⁣⁣ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. It is with great sadness that we announce the passing of the third President of the Republic of Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie on 11 September 2019 at 18.05 at RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. The Habibie Center kindly asks the entire Indonesian nation for their thoughts and prayers during this time of mourning.

A post shared by The Habibie Center (@habibiecenter) on

Kedua, masalah terkait dengan Draft RUU KPK yang akhirnya disetujui oleh mr president (Jokowi Akhirnya Setuju Revisi UU KPK)

Mengenai Persoalan di Draf RUU KPK bisa dibaca dibawah ini, sumbernya dari www.kpk.go.id

10 Persoalan di Draf RUU KPK

10 Persoalan di Draf RUU KPK

10 Persoalan di Draf RUU KPK (Sumber Koran Tempo)

  1. Independensi KPK terancam
    • KPK tidak disebut lagi sebagai lembaga Independen yang bebas dari pengaruh kekuasaan manapun;
    • KPK dijadikan lembaga Pemerintah Pusat
    • Pegawai KPK dimasukan dalam kategori ASN sehingga hal ini akan beresiko terhadap independensi pegawai yang menangani kasus korupsi di instansi pemerintahan;
  1. Penyadapan dipersulit dan dibatasi
    • Penyadapan hanya dapat dilakukan setelah ada izin dari Dewan Pengawas. Sementara itu, Dewan Pengawas dipilih oleh DPR dan menyampaikan laporannya pada DPR setiap tahunnya;
    • Selama ini penyadapan seringkali menjadi sasaran yang ingin diperlemah melalui berbagai upaya, mulai dari jalur pengujian UU hingga upaya revisi UU KPK
    • Korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa dan dilakukan secara tertutup. Sehingga bukti-bukti dari Penyadapan sangat berpengaruh signifikan dalam membongkar skandal korupsi;
    • Penyadapan diberikan batas waktu 3 bulan. Padahal dari pengalaman KPK menangani kasus korupsi, proses korupsi yang canggih akan membutuhkan waktu yang lama dengan persiapan yang matang. Aturan ini tidak melihat kecanggihan dan kerumitan kasus korupsi yang terus berkembang;
    • Polemik tentang Penyadapan ini semestinya dibahas secara komprehensif karena tidak hanya KPK yang memiliki kewenangan melakukan Penyadapan;
  1. Pembentukan Dewan Pengawas yang dipilih oleh DPR
    • DPR memperbesar kekuasaannya yang tidak hanya memilih Pimpinan KPK tetapi juga memilih Dewan Pengawas
    • Dewan pengawas menambah panjang birokrasi penanganan perkara karena sejumlah kebutuhan penanganan perkara harus izin Dewan Pengawas, seperti: penyadapan, penggeledahan dan penyitaan
  1. Sumber penyelidik dan penyidik dibatasi
    • Penyelidik KPK hanya berasal dari Polri, sedangkan Penyidik KPK berasal dari Polri dan PPNS;
    • Hal ini bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi yang memperkuat dasar hukum bagi KPK dapat mengangkat Penyelidik dan Penyidik sendiri;
    • Lembaga-lembaga KPK di beberapa negara di dunia telah menerapkan sumber terbuka Penyidik yang tidak harus dari kepolisian, seperti: CPIB di Singapura, ICAC di Hongkong, MACC di Malaysia, Anticorruption Commision di Timor Leste, dan lembaga antikorupsi di Sierra Lone.
    • Selama ini proses Penyelidikan dan Penyidikan yang dilakukan KPK sudah berjalan efektif dengan proses rekruitmen yang terbuka yang dapat berasal dari berbagai sumber;
  1. Penuntutan perkara korupsi harus koordinasi dengan Kejaksaan Agung
    • KPK harus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung dalam melakukan Penuntutan Korupsi;
    • Hal ini beresiko mereduksi independensi KPK dalam menangani perkara dan akan berdampak pada semakin banyaknya prosedur yang harus ditempuh sehingga akan memperlambat penanganan perkara
  1. Perkara yang mendapat perhatian masyarakat tidak lagi menjadi kriteria
    • Ketentuan yang sebelumnya diatur di Pasal 11 huruf b UU KPK tidak lagi tercantum, yaitu: mendapat perhatian dan meresahkan masyarakat;
    • Padahal pemberantasan korupsi dilakukan karena korupsi merugikan dan meresahkan masyarakat dan diperlukan peran masyarakat jika ingin pemberantasan korupsi berhasil;
  1. Kewenangan pengambilalihan perkara di penuntutan dipangkas
    • Pengambilalihan perkara hanya bisa dilakukan untuk proses Penyelidikan;
    • KPK tidak lagi bisa mengambil alih Penuntutan sebagaimana sekarang diatur di Pasal 9 UU KPK
  1. Kewenangan-kewenangan strategis pada proses penuntutan dihilangkan
    • Pelarangan ke luar negeri
    • Meminta keterangan perbankan
    • Menghentikan transaksi keuangan yang terkait korupsi
    • Meminta bantuan Polri dan Interpol
  1. KPK berwenang menghentikan penyidikan dan penuntutan
  • KPK menetapkan suatu kasus penyidikan melalui proses yang sangat hati-hati karena tidak adanya penghentian penyidikan dan penuntutan. Melalui ketentuan tersebut akan menurunkan strandar KPK dalam penanganan kasus.
  • Penghentian penyidikan dan penuntutan yang belum selesai selama 1 (satu) tahun akan membuat potensi intervensi kasus menjadi rawan. Terlebih pada kasus yang besar serta menyangkut internasional proses penanganan akan sangat sulit menyelesaikan selama satu tahun. Selain itu, berpotensi juga dilakukan penghambatan kasus secara administrasi sehingga lebih dari 1 (satu) tahun.
  • Tingkat kesulitan penanganan perkara dari satu perkara ke perkara lain bermacam-macam, sehingga mungkin saja ada perkara yang amat rumit sehingga membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk menanganinya.
  • Tidak pernah ada aturan dalam sistem hukum acara pidana nasional yang mengatur bahwa suatu penyidikan/penuntutan harus dihentikan jika selama jangka waktu tertentu proses penyidikan/penuntutannya belum selesai, jadi aturan ini adalah aturan anomali yang sama sekali tidak mendukung pelaksanaan tugas penegakan hukum KPK.
  1. Kewenangan KPK untuk mengelola pelaporan dan pemeriksaan LHKPN dipangkas
    • Pelaporan LHKPN dilakukan di masing-masing instansi, sehingga hal ini akan mempersulit melihat data kepatuhan pelaporan dan kewajaran kekayaan Penyelenggara Negara;
    • Posisi KPK direduksi hanya melakukan kooordinasi dan supervisi;
    • Selama ini KPK telah membangun sistem dan KPK juga menemukan sejumlah ketidakpatuhan pelaporan LHKPN di sejumlah institusi;

Leave a Reply