Daripada Pindahin Ibukota, Ini Yang Bakal Saya Lakukan Kalau Jadi Pak Jokowi!

By | August 25, 2019

Sejak masuk usia yang mulai ngerti dengan politik, saya berusaha menjauhinya. Sebagai penggemar figur seperti Bacharuddin Jusuf Habibie dan Pak Dahlan Iskan, saya lebih memilih jalan teknokrat atau lebih ke yang teknis. Buat saya politik isinya hanya bacotan yang kadang bikin males. Pendek kata, saya males dengan politik dan segala macemnya.

Tapi bukan berarti saya nggak peduli dengan apa yang terjadi dengan negeri ini. Bagaimanapun saya cinta NKRI, bahkan meski pernah ngerasain enaknya tinggal dan bekerja di Australia selama setahun, saya tetap memilih untuk pulang dan tinggal di NKRI. Setelah tinggal di Australia selama setahun, saya merasa ada yang hilang ketika saya menetap di negara orang. Paling tidak untuk sementara ini.

Sekarang, kembali ke masalah yang lagi hangat sekarang ini. Yaitu tentang pemindahan ibukota Jakarta.

Secara konstitusional, Jakarta ditetapkan sebagai ibu kota Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964. Jakarta telah menjadi pusat pemerintahan sejak masih bernama Batavia pada masa Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20 ada upaya oleh Pemerintahan Hindia Belanda untuk mengubah lokasi ibu kota dari Batavia ke Bandung, walaupun gagal karena Depresi Besar dan Perang Dunia II. Setelah menjadi wacana selama puluhan tahun, Presiden Joko Widodo mengumumkan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan pada tahun 2019. – wikipedia

Daripada Pindahin Ibukota Ke Kalimantan, Ini Yang Bakal Saya Lakukan Kalau Jadi Pak Jokowi!

Daripada Pindahin Ibukota Ke Kalimantan, Ini Yang Bakal Saya Lakukan Kalau Jadi Pak Jokowi!

Menurut pendapat saya pribadi, sepertinya ini bakal menjadi wacana atau mungkin bakal hanya gimmick saja sih malahan. Kenapa menurut saya begitu?

Oke, mengutip dari tirto.id

Biaya memindahkan ibu kota Indonesia ke Kalimantan ditaksir hingga miliaran dolar AS. Di luar negeri juga begitu.

Wacana memindahkan ibu kota itu menimbulkan pro dan kontra. Apalagi, biaya memindahkan ibu kota tidak murah. Menurut estimasi pemerintah, biaya memindahkan ibu kota ke Pulau Kalimantan bisa mencapai 33 miliar dolar AS

Dana sebesar 33 miliar dolar AS atau setara dengan Rp469 triliun (asumsi Rp14.199/dolar AS) itu bukanlah nilai yang kecil karena setara dengan seperempat dari total penerimaan negara sepanjang 2018 yang sebesar Rp1.942 triliun

Belum lagi, kondisi keuangan Indonesia saat ini masih belum surplus alias defisit. Tahun ini, defisit anggaran yang harus ditutup pemerintah diperkirakan mencapai Rp296 triliun. Jelas, wacana memindahkan ibu kota kian menambah beban anggaran.

Dikutip dari : https://tirto.id/di-balik-biaya-besar-pemindahan-ibu-kota-berbagai-negara-egAa

Dari data yang ada, memindahkan ibukota bakal memerlukan biaya yang sangat besar. Nalangin BPJS yang defisit parah aja bingung lho, mindahin ibukota duit dari mana?

Berita Defisit BPJS Baca disini :

  1. BPJS Kesehatan selalu mengalami defisit kas. Bahkan sampai saat ini diestimasikan BPJS Kesehatan defisitnya mencapai Rp 28,4 triliun.
  2. Saat Sri Mulyani Merasa Tersudutkan atas Defisit BPJS Kesehatan…

Kalau pun beneran pindah, saya nggak tahu dananya dapet dari mana. Semoga bukan dari utang lagi ke luar negeri, atau menaikkan pajak rakyatnya. Saya sih nggak mau ambil pusing, yang manapun, hasil akhirnya saya harus tetap bekerja keras. Paling tidak bekerja keras untuk diri sendiri dan keluarga.

Menurut saya pribadi sih, daripada memindahkan ibukota, dana untuk memindahkan ibukota itu bisa dipakai untuk beberapa hal ini sih. Yah, beberapa masih terkait dengan Jakarta, karena kan salah satu alasan mau memindahkan Ibukota itu gara-gara Jakarta sudah penuh sesak.

1. Bangun Banyak Jalur MRT Di Jakarta, Bikin Jalur Loopline Kereta Commuterline Jakarta

Saya sih sependapat dengan Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau lebih akrab disapa Ahok. Yang kutipannya sebagai berikut :

” Untuk Apa Ngabisin Beberapa Ratus Triliun Hanya Untuk Mengatasi Gara-gara Sini Macet Lalu Ibukota Pindah. Padahal bikin 1 loop line kereta api cuma 30 triliun. Jadi bukan karena ada masalah, jadi lari dari masalah”

Selengkapnya bisa lihat di video yang ada di bawah ya. Tentu saja ini video lama, ketika beliau masih jadi wakil gubernur DKI Jakarta. Berarti presiden waktu itu masih Pak SBY :

 

Yes, saya sependapat dengan si bapak. Jakarta sekarang itu sudah right on track banget. Udah dibangun MRT, moda transportasi umum tepat sasaran untuk mengurangi kemacetan jakarta. Pe-er-nya tinggal memperbanyak jalur MRT di Jakarta dan membuat tarifnya makin terjangkau. Saya sendiri sudah mencoba naik MRT, dan merasakan bagaimana nyamannya transportasi umum yang lebih manusiawi.

Selain itu, solusi loop line kereta api di Jakarta juga sangat masuk akal dan bisa mengurangi kemacetan Jakarta. Saya membayangkan, kalau ada jalur loop line kereta api commuterline Jakarta seperti Yamanote line di Tokyo Jepang, bergerak di Jakarta dan sekitarnya tentu akan lebih menyenangkan. Sebagai catatan, di jalur Yamanote line itu kereta ada hampir setiap 2 menit sekali, terutama ketika jam sibuk.

Keberadaan KRL Commuterline Jakarta ini sangat membantu. Tinggal dibuat jalur loop line, buatin jalur sendiri biar nggak ketemu kereta jarak jauh, dan makin diperbanyak jadwalnya saja.

Udah pernah naik MRT, dan ini adalah moda transportasi paling manusiawi di Jakarta. Tinggal diperbanyak saja jalurnya!

 

2. Perbanyak Bus Dan Jalur Transjakarta

Sebagai orang yang sering pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan, keberadaan transportasi umum sangat memudahkan saya. Terutama adalah Transjakarta yang bisa menjangkau sebagian besar Ibukota. Saya membayangkan kalau jalur transjakarta makin banyak, tentu makin memudahkan untuk orang yang mengandalkan transportasi umum.

Menurut saya, Transjakarta ini adalah salah satu moda transportasi paling manusiawi dan tidak terlalu mahal buat bepergian di Jakarta. Jadi, moda transportasi seperti ini harusnya lebih diberi perhatian dan kalau bisa ditularkan ke daerah lain selain Jakarta.

Kalau di daerah saya jangan ditanya lagi. Jangankan bus kota, angkutan umum antar kota aja sehari paling cuma ada 1-2 saja yang lewat. Tapi tenang saja, orang desa banyak yang kaya. Mereka punya motor dan mobil pribadi untuk kegiatan sehari harinya. Lebih tepatnya sih, harus punya kendaraan pribadi karena angkutan umum sangat tidak jelas jadwalnya, atau bahkan tidak ada.

Kalau Jakarta sudah terlalu padat, mungkin bisa coba digalakkan kembali Gerakan Kembali Ke Desa dan bekerja di Desa?

Kalau Jakarta sudah terlalu padat, mungkin bisa coba digalakkan kembali Gerakan Kembali Ke Desa dan bekerja di Desa?

3. Membuat Tarif Angkutan Umum Di Jakarta Lebih Murah

Kalau salah satu alasan utama pindah ibukota adalah karena Jakarta terlalu macet. Mungkin selain membuat angkutan umum semakin banyak, membuatnya semakin murah juga menjadi pilihan.

Misal, khusus penduduk Jabodetabek dibuatkan sebuah kartu khusus yang bayarnya bulanan, dan bisa digunakan untuk naik transportasi umum di Jakarta secara tak terbatas. Tentu saja harganya harus bisa lebih murah. Kalau masalah kartu-kartuan, saya percaya dengan pemerintahan sekarang. Mereka sudah pro. Kan sudah banyak kartu-kartuan yang sudah terbit kan?

Selain itu, tentu saja harus diikuti dengan regulasi yang sifatnya membatasi kendaraan pribadi di jalanan ibukota. Bisa dengan menggunakan ERP (Electronic Road Pricing) A.K.A Sistem Jalan Berbayar, atau membatasi umur kendaraan hingga menaikkan pajak kendaraan pribadi.

Saya yakin, banyak orang pintar di pemerintahan untuk merumuskan masalah ini. Yang saya nggak yakin, ada berapa orang di pemerintahan yang mau membuat regulasi dan kebijakan seperti ini.

4. Membuat Infrastruktur Pendukung Perekonomian Yang Lebih Pro Rakyat

Oke, kalau masalah infrastruktur, di periode sebelumnya Pak Jokowi sudah banyak fokus kesitu. Ada banyak infrastruktur yang dijadikan portofolio kampanye pilpress 2019. Entah yang dibikin di periodenya atau yang diresmikan olehnya. Tapi yang paling jelas dan kelihatan adalah Tol Trans Jawa.

Tenang, saya juga menikmati keberadaan tol trans Jawa. Terutama untuk rute tol Kertosono – Surabaya – Juanda. Karena keberadaan jalan tol itu, perjalanan yang tadinya bisa memakan waktu 3-4 jam, sekarang hanya perlu 2,5-3 jam perjalanan saja.

Itu bisa terjadi mungkin karena saya bisa menghindari sebagian besar bus dan truck yang mayoritas masih melewati jalur non tol. Namanya juga tol, yang bisa bayar boleh lewat, yang gak mau bayar jangan harap. Alhamdulillah, saya kuat bayar tolnya.

Membuat tol itu keren, tapi kalau jalan negara yang biasa bisa dibuat bagus seperti jalan tol tentu akan lebih keren lagi. Indonesia bisa kok bikin jalan non tol tapi kualitasnya seperti Jalan tol. Misalnya saja Jalur Lintas Selatan Jawa yang sebagian besar dibangun di masa pemerintahan SBY, atau jalan dari Banda Aceh ke Meulaboh yang dibuat oleh pemerintahan Amerika Serikat dan Jepang.

 

 

 

5. Dana Buat Pindah Ibukota Dipake Untuk Banyak Investasi Di Sumber Daya Manusia

Negara maju biasanya negara yang sumber daya manusianya bagus. Kalau enggak percaya, bisa lihat Singapura, Jepang dan masih banyak negara lainnya. Saya yakin, kalau banyak rakyat indonesia yang pintar, tentu nggak akan mudah dibodohi oleh negara lain, atau dibodohi oleh pemerintahannya sendiri.

Saya berharap, Indonesia menjadi negara yang mandiri, paling tidak bisa mencukupi apa yang bisa dihasilkan di negeri ini. Janganlah import lagi apa yang bisa diproduksi oleh anak negeri. Selain itu, bisa juga difasilitasi anak negeri untuk berkreasi. Bukan malah disiasiakan cuma karena berbeda pandangan politik saja.

6. Kalau Bisa, Kerja Dimana Saja Di Indonesia, Buat Penghasilan dan Harga Kebutuhan Hidup Bisa Sama!

Sebenarnya yang membuat saya pengen coba tinggal di Australia dulu adalah, kerja dimana saja, posisisi apa saja kualitas hidupnya sama. Waktu tingal di Australia selama satu tahun, saya mungkin hanya bekerja menjadi seorang staff pembuat kue setiap harinya. Namun demikian, saya tetap bisa hidup selayaknya orang lain yang kerja kantoran. Saya bisa beli smartphone idaman, makan enak dan bahkan bisa jalan-jalan ke New Zealand selama sebulan.

Soalnya ketika kerja di australia sebagai staff tukang pembuat kue, saya digaji sekitar AUD 20 per jamnya setelah dipotong pajak, dengan waktu kerja minimal 8 jam sehari. Selain itu, kerja dimana saja di australia standard gajinya sama. Malah, semakin pelosok tempat kerjanya, semakin besar gajinya. Meski mungkin resikonya bakal bosan karena yang namanya pelosok Australia itu benar-benar tidak ada apa-apa.

Namun, kalau saya kerja sebagai staff pembuat kue di Indonesia setiap harinya, mungkin saya tidak bisa seperti ketika di Australia. Gaji staff pembuat kue di Indonesia berapa sih? Apalagi di kota kecil seperti Blitar tempat saya tinggal sekarang. Anggaplah dapet gaji UMR di Blitar, itu berarti setiap bulan saya bakal dapet Rp 1.801.406,09 ( UMK Kab Blitar 2019 ).

Boro boro buat liburan ke New Zealand, buat beli smartphone idaman aja mikir panjang dulu. Untungnya meski sekarang saya tinggal di kota kecil bernama Blitar, saya dibayarnya pake USD, jadi ya bisa bantu nyumbang devisa ke negara, meski cuma seuprit.

Nah, daripada mindahin ibukota, menurut saya pribadi adalah, gimana pemerintah bisa membuat standard kesejahteraan sama, entah itu tinggal di Jakarta atau di Papua. Katanya Pancasila, pada tahu kan Pancasila sila kelima bunyinya apa? Yak, bunyinya :

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

***

Wes, sudah dulu ngebacotnya. Gini nih kalau ada ide di kepala, gregetan pengen ditulis aja bawaannya. Namun, bagaimanapun juga, itu hanya opini saya pribadi sebagai rakyat biasa yang tak punya kuasa. Selain bercerita, yang bisa saya lakukan hanyalah terus bekerja keras buat saya dan keluarga, juga berdoa agar Indonesia selalu baik-baik saja selamanya.

Kalau ada yang mau nambahin opini atau apa yang menurut kamu harusnya lebih dulu dilakukan pemerintah untuk kemajuan Indonesia daripada sekedar memindahkan Ibukota boleh juga loh. Tulis saja di kolom komentar. Namanya juga beropini, jangan diseriusin. Gak mungkin juga bacotan kayak gini dibaca sama pak Jokowi. Wkwkwk!

Tapi yang pasti, hidup di indonesia itu bagaikan main game RPG. Kamu harus bertahan hidup dengan bekerja keras atau bakal Game Over! Lalu, kalaupun misalnya Ibu Kota tetap dipindah ke Kalimantan, saya cuma berharap. Hutan di Kalimantan yang kian hilang karena perkebunan sawit dan pertambangan itu makin hijau dan lebat. Bukan malah kena babat demi berdirinya ibukota yang baru. Dah, gitu saja!

 

 

View this post on Instagram

 

Tempat paling asik untuk adventure di Indonesia kedua adalah, Borneo! Terutama bagian Kalimantan! Kenapa? Karena di kalimantan ini ada banyak banget taman nasional yang bisa dijelajahi para penyuka petualang seperti saya. Misalnya saja, Taman Nasional Tanjung Puting yang kemarin baru saya kunjungi. Atau kalau mau sedikit lebih ekstrim, coba deh trekking ke Taman Nasional Sebangau seperti yang saya lakukan di foto ini. Saya juga pernah melakukan road trip dari Palangkaraya sampai Berau di tahun 2015. Sayang waktu itu Kalimantan sedang dilanda kebakaran hutan. Jadi kapan-kapan ingin mengulanginya lagi. Nah, kira-kira disini ada nggak yang ingin mencoba bertualang ke Kalimantan? Terus, tempat di Kalimantan yang paling pengen kalian kunjungi mana sih!? . #SuperAdventureID #IDARETOCHALLENGE #IDARE : @littlenomadid @virustraveling @diinto

A post shared by Fahmi (@catperku) on

4 thoughts on “Daripada Pindahin Ibukota, Ini Yang Bakal Saya Lakukan Kalau Jadi Pak Jokowi!

  1. Diah

    Cakep, mas. Saya baru tahu kalau gaji di Australia sama di berbagai tempat.

    Kalau mau Indonesia maju, selayaknya ide-ide asli anak bangsa seperti milik mas Fahmi ini didengarkan.

    Reply
    1. [email protected] Post author

      makin ke pedalaman, makin mahal malah ratenya. tapi pada dasarnya rate gaji di australia standard nasionalnya sama. ada national minimum wage.

      Reply
  2. ugi ugly

    Semoga pak jokowi atau siapapun yang punya power di pemerintahan baca ini. :’D

    Reply

Leave a Reply