Gue Benci Monopoli Transportasi Umum Di Bandara!

By | July 17, 2018

Sebagai seseorang travel blogger yang sering bepergian, hidup gue sering bersliweran di Bandara, terbang naik pesawat, landing di berbagai bandara. Nggak setiap hari sih, tapi lumayan sering buat sesekali dibikin pusing…. sama masalah cari transportasi dari bandara ke destinasi tujuan selanjutnya.

Ya, salah satu hal yang gak gue suka ketika menggunakan moda transportasi pesawat adalah mikirin mau naik apa setelah landing di Bandara tujuan nantinya. Terutama kalau naik pesawat rute domestik dengan tujuan bandara yang terkenal dengan monopoli transportasinya.

Gue sebut saja ya beberapa bandara yang sangat gue benci ketika landing di tujuan pada malam hari. Pertama yang paling sering gue lewati, Juanda Surabaya. Disini memang ada Damri, tapi paling malam cuma jam 9 malem.

Landing diatas jam segitu ya terima nasib. Harus milih naik taksi bandara yang harganya lebih mahal dibanding moda transportasi lainnya seperti taksi online, atau jalan kaki sekitar 15 menit melewati gerbang masuk bandara dan mencari transportasi online dengan aplikasi.

Kedua, Bandara Adi Soemarmo Solo. Baru masuk ke area bandara saja sudah ada tulisan peringatan kalau angkutan online tidak boleh menaikkan penumpang di bandara. Jadi kalau turun di bandara ini terima nasib aja. Naik taksi bandara atau naik damri ke terminal.

Papan informasi larangan taksi online menaikkan penumpang di Bandara Adi Soemarmo Solo

Papan informasi larangan taksi online menaikkan penumpang di Bandara Adi Soemarmo Solo

Ketiga, Bandara Ngurah Rai di Bali. Meski kucing-kucingan, masih bisa naik transportasi online atau taksi macam Blue Bird disini. Kalau enggak ya terpaksa naik taksi bandara yang tarifnya nggak manusiawi. Misal, buat rute ke Kuta dan Legian pake taksi online paling habisnya di 40 ribuan, naik Blue Bird di 50-60 ribuan, naik taksi Bandara 150 ribu. Mending gue jalan kaki menyusuri pantai deh~ Mayan sambil lirik mba mba yang lagi berjemur. Halah!

Sebenarnya masih banyak lagi bandara yang transportasi umumnya ngeselin seperti ini. Masih ada Bandara Husein Sastranegara di Bandung yang paling ngeselin menurut gue. Kalau gak setuju dengan tarif seenaknya taksi bandara, ya udah, pilihannya jalan kaki ke gerbang depan 20-30 menitan. Bedannya tarif taksi bandara yang gak pake argo dengan tarif taksi berargo atau tarif taksi online itu bagai bumi dan langit.

Masih ada lagi? Banyak, tapi ya gak mungkin gue ceritain disini. Kebanyakan, atau malah hampir semua bandara di Indonesia memiliki masalah yang sama ya? Entahlah! Gue belum berkunjung ke setiap bandara di Indonesia, jadi belum bisa berkomentar tentang semuanya.

Baca Juga : Pengalaman Buruk Kerjasama Dengan UC News

Papan informasi larangan taksi online menaikkan penumpang di Bandara Adi Soemarmo Solo.

Papan informasi larangan taksi online menaikkan penumpang di Bandara Adi Soemarmo Solo.

Belakangan, yang sempet rame dengan masalah yang sama sampe dua kali itu Bandar Udara Internasional Achmad Yani dengan terminal barunya yang katanya keren. Gue udah lama gak landing di Semarang sih, tapi sering denger reputasi transportasi umum Bandar Udara Internasional Achmad Yani yang buruk di media sosial.

Paling enggak, dua kali cerita buruk tentang Bandar Udara Internasional Achmad Yani viral di media sosial.

Pertama pernah viral di twitter dengan cerita seperti dibawah ini :

Dan baru-baru ini viral juga di Facebook dengan cerita dibawah ini:

Kurang lebih isinya seperti dibawah ini :

Premanisme di Bandara Ahmad Yani Semarang

Hari ini ketika pesawat saya landing di Semarang tepatnya pukul 12.30 ada perasaan yang campur aduk di hati saya ..lapar, panas, sedih, senang, bingung dan juga bangga melihat pada akhirnya Semarang punya Bandara yang begitu keren.

Keluar dr gate saya berniat naik taxi krn harus menyeberang untuk naik taxi bandara saya merasa agak malas krn panas dan lalu lintas ramai. Kemudian saya melihat ada taxi Blue Bird kosong dan saya menanyakan ke drivernya apakah kosong ? Singkat kata kita sepakat dan semua barang saya dimasukan ke bagasi taxi tsb. Setelah taxi mulai jalan kurang lebih10-20 meter tiba2 taxi kami diberhentikan oleh seorang oknum di Bandara dan membentak supir taxi blue bird dan membentak serta memerintahkan saya untuk turun dari taxi tersebut karena saya tidak boleh naik taxi blue bird dan karena ada peraturan yang melarang kami naik taxi lain selain taxi Bandara. Saya turun dan saya mulai mempertanyakan siapa Bapak tersebut dan ada hak apa dia melarang saya untuk tidak naik taxi pilihan saya ???? Saya tetap mempertahankan hak saya untuk memilih apa saja … Kami terlibat perdebatan sangat keras dan panjang dan dia lakukan pressure ke driver untuk menurunkan semua barang2 saya 😠😠😠… Saya sangat marah dan tersinggung saya minta dia tunjukan peraturan tertulis yang dia sebutkan. Dengan gaya Preman dia mulai mencoba pressure saya…. HAIII Bapak Preman!!!! Anda salah orang deh, meski saya perempuan dan tidak segendut serta sebesar Anda tapi saya punya nyali untuk menghadapi Anda !!!! Dan mempertahankan hak saya !!!

Saya memutuskan untuk masuk lagi ke Gate dan mencoba laporkan apa yg saya alami ke Customer Service karena semua terjadi di Area Bandara Ahmad Yani Baru . Saya menuntut hal yang sama untuk ditunjukan Peraturan tertulis yang menyebutkan Kami sebagai konsumen dari Bandara Ahmad Yani Semarang diharuskan memakai taxi Bandara !!!! Karena menurut saya tidak masuk akal kami sebagai konsumen dilarang memilih. Ternyata mereka tidak bisa menunjukan !!!!!!!!

Datanglah Ibu Rosa Marina sebagai Airport Duty Manager untuk menangani ini . Saya mempertanyakan hal yang sama tentang peraturan dan perlindungan keamanan bagi saya sebagai Konsumen Bandara. Ini negara hukum bukannya ??? Bapak Preman tadi dipanggil untuk ditengahi bersama saya dan lagi2 dengan gaya sok2 an dia menyebutkan dia orang suruhan seorang Pejabat !!! Tidak hilang akal saya nyalakan HP saya dan saya minta dia sebutkan semua nama Pejabat yg dibanggakannnya!!!! Tiba2 Bapak itu berhenti dan tidak lagi berani menyebutkan Pejabat tersebut krn bbrp temannya mulai toel2 itu Bapak !!! Hei Pakkk sebutkan saja kalau kamu merasa benar !!!! Dan konyolnya lagi pihak Bandara menawarkan solusi ke saya sbb:
1. Tetap menggunakan Taxi Bandara
2. Diantar keluar Bandara dgn mobil dr Angkasa Pura I dan ibu boleh naik taxi apa saja setelah keluar dari Bandara
3. Naik Bus Trans Smrg

Dan saya menolak semua !!!! Karena saya merasa punya hak untuk memilih dan Anda harus menghormati pilihan saya apalagi Anda tidak bisa menunjukan ke saya peraturan yang mengharuskan naik Taxi Bandara dan sekali lagi kalaupun sampai ada peraturan tsb saya pribadi akan mempertanyakan kenapa peraturan itu ada ???? Bukankah Anda harus menghargai hak kami sebagai konsumen dan Ingat Hak Konsumen juga dilindungi. Saya tetap pada pendirian saya untuk dipanggilkan taxi blue bird krn mereka menurunkan saya dari Taxi Blue Bird …NO EXCUSES!!!!

Surat terbuka ini saya tunjukan ke Bp Menteri Perhubungan Budi Karya, Bp Gubernur Jateng Bapak Ganjar Pranowo, Bp Walikota Semarang Bp. Hendrar Prihadi, Pihak Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Semarang, YLKI untuk pembelajaran kita bersama bahwa dibalik kemegahan, kebanggan kita memiliki Bandara Ahmad Yani yang keren masih terselip oknum2 Preman yang berpotensi merusak mental bangsa ini !!! Bukankah Revolusi Mental sangat diperlukan dan sedang kita perjuangkan bersama ????

Mohon Bapak/Ibu Pejabat terkait bisa memberikan klarifikasi,solusi dan juga memperbaiki permasalahan ini. Puluhan kali saya melihat hal ini sudah terjadi di Bandara A. Yani hanya mereka diam dan hari ini giliran saya yang mengalami hal yang sama hanya bedanya saya tidak diam. Saya bereaksi untuk kebaikan kita semua .

Semua dokumen dan foto sengaja tidak saya sertakan di surat ini dan saya bersedia menyerahkan kepada pihak yang terkait agar tidak disalah gunakan .

Kasusnya sama, penumpang dipaksa turun sama preman bandara setelah ketahuan tidak naik taksi bandara. Eh, bandara internasional kok gini ya kualitasnya? Apakah preman di Bandar Udara Internasional Achmad Yani itu sekuat Yakuza? Entahlah!

Masak kita kalah sama negara tetangga sih? Nggak usah dibandingin sama Singapura ya, karena kita udah pasti ketinggalan jauh sama Bandara Changi yang super besar itu. Sama Malaysia aja yang masih sekelas, meski agak ketinggalan juga sih.

Tiap kali landing di KLIA2, saya bisa milih sesuai budget dan keinginan. Kalau lagi pengen cepet saya naik KLIA Express, kalau lagi mau hemat, naik bus bandara. Paling demen sih kalau landing di Bandara negara maju. Pilihan makin banyak, mulai dari kereta bus dan kalau banyak duit bisa naik taksi.

Padahal keinginan gue sebagai konsumen biasa sederhana. Bebaskan konsumen mau naik transportasi yang mana dari bandara, toh rejeki udah ada yan ngatur. Sukur-sukur ada transportasi yang nyaman dan murah seperti bus kota atau kereta bandara yang beroperasi sampai penerbangan terakhir.

Tapi yang jelas, kalau disuruh memilih mengikuti tarif transportasi bandara yang dimonopoli atau jalan kaki, saya lebih milih jalan kaki deh. Ogah banget mendukung monopoli transportasi bandara!

 

3 thoughts on “Gue Benci Monopoli Transportasi Umum Di Bandara!

  1. Titi Alfa Khairia

    Betulllll….bandara Indonesia bikin mangkel. Udahlah kalo pake taxi bandara itu muahal dan maksa… udah gitu kalo malem…bandara Halim 1-2 pun tak ada bus dan taxi yg standby…… beda jauhhhh sama Malaysia di mana kita turun langsung ada pilihan moda sesuai kantong dan tempatnya mudah dijangkau.

    Mau teriak Visit Indonesia 2018? Benahi dulu transportasi dari dan ke bandara!

    Reply
  2. Dewi Ratna

    Betul sekali, saya baru saja mengalami hal serupa di bandara Adi Sumarmo. Saya milih jalan kaki

    Reply

Leave a Reply